Dihapus, Selamat Tinggal Mokmen (Razia Polantas)

13273684961422163751

Foto ilustrasi: Razia polisi di jalan; sumber http://4.bp.blogspot.com/-4A-0KD0CSts/TdshDH5SUGI/AAAAAAAAACo/QtBVkxV8LYU/s1600/razia%2Bpolisi%2B2.JPG

Saat mendengarkan streaming Radio SoloPos FM, ada sebuah berita yang membuat saya terkejut. Mulai bulan Januari 2012, Polda Jateng mengeluarkan kebijakan untuk menghapus mokmen, istilah bagi pemeriksaan surat kelengkapan kendaraan bermotor di satu titik jalan yang dilakukan oleh polisi lalu lintas. Menurut Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jateng, Kombes Polisi M Naufal Yahya, seperti dilansir oleh Solopos FM, penghentian razia itu dilakukan berdasarkan hasil evaluasi Polda Jateng bahwa razia tak bisa menekan kasus kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Razia dinilai tidak efektif membuat masyarakat sadar berlalu lintas. Walaupun diterapkan di wilayah Jawa Tengah, namun kebijakan itu dilakukan bersamaan dengan kecelakaan tragis di kawasan Tugu Tani Jakarta.

Dengan dikeluarkan kebijakan tersebut, tentu banyak pro dan kontra yang bermunculan. Razia yang biasanya dilakukan pada titik-titik tertentu dimaksudkan untuk menegakkan kedisiplinan para pengguna jalan. Namun, pada kenyataannya, mokmen banyak disalahgunakan dengan cara mencari-cari kesalahan meskipun surat berkendara sudah lengkap. Pengguna jalan yang seringkali terhadang mokmen barangkali akan senang karena tidak ada lagi razia yang seringkali menyita banyak waktu. Sebaliknya, mungkin ada masyarakat yang kontra dengan penghapusan razia tersebut. Lha wong ada mokmen saja banyak yang melanggar, bagaimana kalau dihapus?

Untuk menegakkan kedisiplinan berkendara di jalan, Jajaran Satlantas Polres  Karanganyar  mengambil kebijakan, melakukan hunting. Bila di satu tempat polisi memergoki ada pengguna jalan melakukan pelanggaran, misal ada yang tidak memakai helm atau berboncengan 4 orang, melanggar marka, kelengkapan kendaraan tidak ada, maka pengguna jalan tersebut akan langsung dikejar dan ditilang. Apakah cara tersebut akan efektif meningkatkan kedisiplinan berlalu lintas dan mengurangi angka kecelakaan?

Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut. Banyak hal yang berpengaruh terhadap kedisiplinan masyarakat dalam berlalu lintas, demikian pula dengan penyebab kecelakaan di jalan raya. Polisi lalu lintas sebagai pihak yang bertugas untuk menegakkan disiplin perlu berbenah. Mereka harus menindak setiap pelanggar lalu lintas sesuai dengan hukum yang berlaku. Permasalahannya, selama ini jika ada pelanggaran lalu lintas, maka penyelesaiannya dengan cara berdamai. Terkait dengan kesadaran masyarakat, banyak yang sembrono ketika berlalu lintas. Sebagai contohnya adalah berkirim SMS atau bertelepon ketika berkendara.

Pemahaman masyarakat mengenai Undang-Undang berlalu lintas harus dipahami oleh masyarakat. Ada atau tidak ada razia, sebagai masyarakat yang disiplin berlalu lintas, semestinya kelengkapan surat-surat dimiliki dan dibawa ketika bepergian. Ada atau tidak ada polisi, masyarakat tetap harus menjaga ketertiban dan berdisiplin dalam berlalu lintas seperti menaati lampu lalu lintas, memakai helm, tidak ngebut atau tidak melanggar marka jalan. Selain itu, salah satu hal yang bisa dipelajari dari beberapa kasus kecelakaan lalu lintas adalah pengemudi harus dalam keadaan sadar dan tidak sedang dalam pengaruh obat.

Kepolisian perlu terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang kedisplinan berlalu lintas. Penyuluhan ke sekolah-sekolah misalnya, dapat dilakukan oleh kepolisian untuk meningkatkan kesadaran dan santun berlalu lintas. Kepolisian bersama masyarakat perlu terus mengkampanyekan santun dan aman berlalu lintas di jalan raya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Wisata Belajar, Berburu Buku Murah di Inggris

1326228289969477778
Beberapa buku yang dibeli di toko charity; foto dokumentasi pribadi

Perjalanan darat yang cukup melelahkan dari Groningen ke Inggris telah saya tempuh dengan bus Eurolines. Tidak hanya itu, segala macam persiapan yang saya lakukan mulai dari pengajuan visa ke UK, penyerahan dokumen visa ke Dusseldorf hingga berkemas barang-barang yang dibutuhkan selama di Inggris haruslah berbuah sesuatu yang manis. Ketika diberitahu bahwa saya bisa hunting buku-buku murah di toko-toko charity, hati saya langsung semringah. Obsesi saya untuk memiliki perpustakaan, paling tidak perpustakaan pribadi, selalu menggiring saya untuk berburu buku-buku. Apalagi jika mendengar buku murah, naluri saya langsung mengarah untuk datang ke sana. Liburan ke Inggris dalam rangka Natal dan Tahun Baru harus menghasilkan sesuatu, tidak hanya sekedar cuci mata dan senang-senang. Dengan berburu buku di toko charity, pasti akan ada manfaat yang saya peroleh. Charity shops, I’m coming!!!

Di Brighton, saya menemukan banyak toko charity. Ketika pertama kali masuk ke sebuah toko yang dimiliki oleh Oxfam, serasa saya ingin membeli semua buku-buku itu dan mengirimnya ke Indonesia. Tapi akhirnya saya tersadar bahwa semuanya harus disesuaikan dengan isi kantong. Memang harga buku rata-rata antara 1 pound hingga maksimal 3 pound, namun jika diambisi itu dituruti, maka habislah uang di dompet. Akhirnya saya memilih buku-buku yang menurut saya menarik.

Saya sadar bahwa untuk mewujudkan mimpi memiliki perpustakaan harus dicicil sedikit demi sedikit. Saya suka buku cerita anak-anak, buku-buku sejarah, novel, biografi atau buku-buku pengetahuan umum. Di toko charity milik The British Heart Foundation, ketika saya menemukan The Oxford Dictionary of Quotations dengan harga 1.99 pound, saya segera mengambilnya. Demikian pula ketika menemukan buku Richard Dawkins berjudul The God Delusion dengan harga 2 pound, saya segera memegangnya karena takut kalau diambil oleh orang lain.

Di toko charity Save the Children, saya banyak menemukan buku cerita anak-anak. Beberapa buku karya Grid Blyton yang dijual dengan harga 1.5 pound langsung saya amankan. Saya ingin menjadikan buku karya Grid Blyton tersebut dalam koleksi perpustakaan saya nantinya. Beberapa buku bacaan juga saya beli di toko charity yang dikelola oleh Martlets Shop, the Sussex Beacon dan YMCA Sussex Central.

13262364731641743955

Di depan toko charity milik Oxfam; foto dokumentasi pribadi

Bila masuk ke sebuah toko charity dan menemukan harga buku tertulis 30 atau 50 pence, kaki saya selalu melangkah untuk melihat judul buku yang dijual. Seperti ketika masuk ke toko the Sussex Beacon, di sebuah keranjang tertulis harga buku 30 pence. Buku tentang Roy Keane, salah satu bintang lapangan Manchester United yang menjadi idola saya, saya beli dengan harga 30 pence. Buku lain berjudul the Kite Runner karya Khaled Hosseini, saya beli dengan harga 50 pence. Murah bukan?

Tidak hanya buku yang dijual di toko-toko charity, namun juga berbagai macam pakaian, hiasan dinding, mainan anak-anak atau souvenir. Barang-barang itu disumbangkan oleh masyarakat untuk dijual dan uang hasil penjualan tersebut didonasikan kepada pihak tertentu sesuai dengan latar belakang organisasi yang mengorganisir toko charity tersebut. Jadi, dengan menyumbangkan barang-barang ke toko charity dan barang tersebut dibeli, maka uang tersebut dapat dipakai untuk membantu pihak-pihak tertentu yang membutuhkan. Seperti yang dilakukan Save the Children. Dalam poster yang terpasang di toko, tertulis sebagai berikut:

Everyday 30,000 young children die from preventable disease
We’re working flat out to save the children
You’re helping by shopping here

Perjalanan saya ke Inggris berbuah manis. Saya mendapat double kebahagiaan. Saya mendapat buku-buku yang saya inginkan dengan harga murah, sekaligus berpartisipasi dalam kegiatan amal organisasi-organisasi yang memiliki charity shop. Secara total, saya membeli buku sebanyak 45 buah berupa cerita anak-anak, novel, pengetahuan umum dan biografi. Perjalanan saya kali ini semakin mewujudkan impian saya untuk memiliki perpustakaan. Saya bermimpi untuk memiliki koleksi buku yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang di sekeliling saya untuk menambah pengetahuan. Visa UK saya masih berlaku hingga Mei 2012. Saya masih memiliki waktu untuk hunting buku-buku lain di bulan-bulan lain sebelum visa saya habis masa berlaku. Saya juga perlu menabung terlebih dulu supaya dapat membeli buku lebih banyak lagi dan membayar ongkos kirim dengan kapal laut ke Indonesia.

Apakah ada yang hobi berburu buku dan memiliki mimpi seperti saya? Jika ada, we’re in the same boat. Apakah ada yang bisa kita lakukan bersama-sama sehingga mimpi tersebut terwujud?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Menempuh Perjalanan Darat Belanda – Inggris

13262162471395111619
Gambar Ilustrasi: Bus Eurolines; dokumentasi pribadi

Libur tlah tiba…libur tlah tiba…hatiku gembira…Hore…Hore…Hore!!!!

Syair lagu yang dinyanyikan Tasya di atas terngiang-ngiang dalam telinga ketika saya menutup pintu kamar dan meninggalkan Student Housing di Groningen pada 2 hari menjelang Natal. Sore itu, jam hampir menunjukkan pukul 6 sore, dengan membawa satu buah tas koper warna merah dan satu tas ransel, saya berjalan menapaki jalanan basah akibat guyuran hujan. Hawa dingin 8 derajat Celcius menyelinap di sela-sela kulit, namun tidak memadamkan rasa gembira saya untuk mengunjungi tanah seberang, Inggris.

Perjalanan panjang sudah menunggu. Saya akan menempuh perjalanan darat dari Belanda ke Inggris. Tiket bus Eurolines dari Utrecht ke London sudah saya pesan bersamaan dengan pendaftaran visa pada bulan November yang lalu. Karena saya tinggal di Groningen, untuk sampai Utrecht, saya harus naik kereta Nederland Spoorwagen kurang lebih 2 jam dari Groningen Centraal Station. Menurut itinerary, bus Eurolines yang tumpangi nanti akan sampai di London Victoria Coach Station pada pukul 06.45 pagi waktu setempat.

Saya sengaja memilih perjalanan via darat sebagai sebuah nostalgia. Ketika saya bekerja di Bali, pada saat libur Natal dan tahun baru, saya naik bus dari Denpasar ke Solo dan sebaliknya. Jadi momen libur Natal 2011 dan tahun baru 2012 kali ini, saya ingin memiliki pengalaman yang serupa melalui perjalanan darat dari Belanda ke Inggris dengan menggunakan bus. Wow, betapa asyiknya.

Sesampai Utrecht Centraal Station, saya segera menuju ke Jaarbeursplein sebagaimana disebutkan dalam tiket. Saya agak kesulitan mencari halte bus Eurolines sebab di Jaarbeursplein terdapat banyak halte bus. Menurut beberapa blog yang pernah saya baca, halte bus Eurolines terkadang tidak kelihatan sebab hanya memakai satu papan kecil bertuliskan Eurolines. Pada saat mencari itu, saya bertemu dengan dua orang penumpang lain yang hendak pergi ke London juga. Jadilah kami bertiga bersama-sama mencari halte Eurolines.

Karena tidak menemukan halte Eurolines, jadilah kami bertiga berteduh di sebuah halte. Malam itu, hujan mengguyur tanah Belanda. Kami hanya mengandalkan pandangan mata pada setiap bus yang masuk ke kawasan Jaarbeursplein. Sempat lelah menunggu, akhirnya sebuah bus bertuliskan Eurolines datang. Kami bertiga lega. Sambil menanti di mana bus tersebut akan berhenti, kami mengangkat tas masing-masing.

Waktu menunjukkan pukul 21.15. Penumpang bus Eurolines segera mendekati bus yang akan mengantar ke London. Namun sebelum masuk bus, para penumpang dipersilakan untuk memasukkan tas bawaan mereka ke dalam bagasi dengan diatur driver bus. Saat para penumpang rebut memasukkan tas mereka, saya mencari-cari petugas Eurolines lain yang membantu driver. Tapi ternyata tidak ada. Driver itu mengerjakan tugasnya sendiri.
Lantas driver itu berdiri di pintu bus. Dia meminta satu per satu menunjukkan tiket dan kartu identitas untuk daftar ulang. Saya masih berharap ada seseorang yang membantunya seperti yang sering dilihat di perusahaan-perusahaan bus di Indonesia. Bus malam langganan saya di Indonesia paling tidak dalam setiap perjalanan memiliki 2 driver yang saling bergantian bertugas dan satu orang kernet. Dalam batin saya bertanya, apakah mungkin driver Eurolines ini hanya bertugas sendirian?

Setelah cek tiket selesai, driver berbicara melalui microphone. Dia meminta semua penumpang memasang sabuk pengaman sebab perjalanan akan segera dimulai. Bus bus melaju perlahan meninggalkan Jaarbeursplein dan menyusuri jalanan Utrecht. Para penumpang masih bercakap-cakap. Namun perlahan satu per satu mereka terlelap dalam tidur. Suasana di dalam bus jadi hening.

Pertanyaan saya mengenai apakah driver Eurolines itu akan bertugas sendirian menjurus pada jawaban “ya”. Saya yang sempat tertidur di dalam bus dikejutkan dengan suara driver bahwa dia akan berhenti untuk istirahat selama 45 menit. Jam menunjukkan pukul 01.00 pagi. Bus berhenti di sebuah pompa bensin di Belgia. Para penumpang turun dan menuju ke sebuah supermarket yang ada di pompa bensin itu. Ada yang pergi ke toilet, ada yang membeli kopi, roti dan makanan ringan.

Saya juga berniat membeli kopi. Di sana banyak penumpang yang duduk di kursi yang tersedia, banyak pula yang berdiri. Di sebelah mesin kopi otomatis, driver bus Eurolines tampak menikmati kopi yang diminumnya. Saya berdiri di sampingnya dan tersenyum. Saya berdialog dengannya. Ternyata dia memang bertugas sendirian dan memang begitulah sistemnya. Tidak ada driver cadangan, tidak ada kernet. Hebat juga ya!!

Penumpang diminta naik ke bus kembali sebab perjalanan dilanjutkan. Sebelum berangkat, driver menghitung jumlah penumpangnya agar jangan sampai ketinggalan. Cukup capek dan repot juga ketika driver tidak memiliki kernet dan sopir cadangan. Bus pun akhirnya melaju di jalan raya Belgia dan memasuki negara Perancis. Mata saya kembali terpejam.

Kembali terdengar pengumuman. Kali ini bus memasuki wilayah pelabuhan Calais. Akan ada cek passport dan visa sebelum masuk ke kapal ferry. Semua penumpang turun dan mengantri. Ada dua kali pengecekan, pertama oleh kepolisian dan oleh UK Border. Ketika tiba giliran saya diperiksa seorang polisi UK, saya sempat menunggu hampir 5 menit. Polisi itu mengecek visa, passport dan residence permit saya. Dia membolak-balik buku passport, mencocokkannya dengan visa dan residence permit. Polisi itu masuk ke sebuah ruangan lantas kembali lagi.

Saya bisa mengerti mengapa dia mengecek dokumen saya lebih lama. Nama saya di visa UK berbeda dengan nama di passport dan residence permit. Nama saya hanya terdiri dari 1 kata; Winarto; di passport dan residence permit tertulis “Winarto” tetapi di visa UK tertulis Winarto XXX. Ketika saya pertama kali menerima visa itu, saya juga kaget, saya mendapat tambahan nama XXX oleh UK Border. Namun setelah teliti dicek, akhirnya saya bisa melanjutkan pengecekan di UK Border. Di sana saya diminta mengisi formulir keimigrasian dan ditanya alasan saya mengunjungi UK. Selesai pengecekan dokumen, semua penumpang kembali masuk ke dalam bus. Mereka tampak bercakap-cakap satu sama lain. Mereka tidak tidur lagi sebab beberapa saat lagi bus akan masuk ke kapal ferry.

Bus pun akhirnya masuk ke kapal yang dioperatori oleh P&O Ferries. Dari luar, kapal ferry tersebut tampak megah dan mewah. Memang demikianlah adanya. Para penumpang turun dari bus bisa naik ke kapal dan menikmati fasilitas-fasilitas di sana seperti kafe, restoran, tempat permainan, minimarket, atau sekedar duduk dan tidur di sofa yang tersedia sambil menunggu waktu 1,5 jam untuk menyeberang dari pelabuhan Calais ke Dover. Waktu tersebut juga dipergunakan para driver bus untuk beristirahat atau duduk sambil bersantai. Saya sendiri memutari sudut-sudut kapal ferry dan melihat apa yang ada dan terjadi di sana. Tapi akhirnya lelah juga dan memutuskan untuk duduk di sebuah sofa sambil membaca majalah.

Kapten kapal ferry mengumumkan bahwa beberapa saat lagi kapal akan berlabur di Port of Dover. Para penumpang diminta kembali ke bus atau mobil masing-masing sambil menunggu kapal bersandar sempurna. Saya turut serta dalam antrian penumpang yang kembali ke bus. Satu per satu penumpang masuk ke bus. Sebelum berangkat, driver menghitung jumlah penumpang yang sudah ada di dalam.

13262220151668531221
London Victoria; foto dokumentasi pribadi

Akhirnya, bus memasuki tanah Inggris. Jam menunjukkan pukul 4.30 pagi. Hari masih sangat gelap. Perjalanan dilanjutkan menuju ke London. Masih butuh waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke London. Saya memanfaatkan waktu perjalanan yang tersisa untuk memejamkan mata dengan harapan ketika membukanya kembali, saya sudah sampai di London.

Dua jam kemudian, bus memasuki London Victoria Coach Station. Oh senangnya, tiba juga di London setelah menempuh perjalanan jauh dari utara Belanda. Saya segera mengambil tas di bagasi, mengucapkan terima kasih dan jalan ke London Victoria Station. Perjalanan yang melelahkan tetapi sangat menyenangkan. Tunggu cerita berikutnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS